Sektor pelayaran Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah mencatat peningkatan aktivitas kapal niaga, pengangkutan logistik antar pulau, hingga ekspor-impor melalui jalur laut. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Kementerian Perhubungan menyebut, peningkatan tersebut didorong oleh program revitalisasi pelabuhan, penyederhanaan logistik, hingga digitalisasi sistem kepelabuhanan. Sejumlah pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Belawan kini mulai menerapkan teknologi pelabuhan cerdas (smart port) berbasis digital.
“Modernisasi pelabuhan sangat penting untuk mempercepat arus logistik, mengurangi biaya pengiriman, dan mendukung daya saing industri nasional,” ujar salah satu pejabat Ditjen Perhubungan Laut dalam konferensi pers resmi.
Kenaikan Aktivitas Kargo dan Penumpang
Seiring meningkatnya kebutuhan distribusi barang antarpulau, permintaan terhadap kapal kargo domestik juga bertambah. Selain itu, sejumlah rute penumpang berbasis kapal ferry dan kapal perintis mengalami peningkatan okupansi, terutama di wilayah timur Indonesia.
Pelayaran rakyat (Pelra), yang menggunakan kapal kayu dan kapal kecil, kembali menjadi perhatian karena berperan penting dalam distribusi logistik daerah terpencil. Pemerintah tengah menyiapkan program “Tol Laut berbasis rakyat” untuk memperkuat sektor tersebut.
Meski begitu, peningkatan aktivitas ini dibarengi tantangan besar, terutama terkait keselamatan pelayaran dan umur armada kapal. Masih banyak kapal dengan usia operasi lebih dari 25 tahun yang membutuhkan peremajaan.
Catatan kecelakaan laut yang dipicu kelebihan muatan, cuaca ekstrem, hingga kelalaian prosedur keselamatan, masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas. Modernisasi kapal dan peningkatan kualitas SDM pelaut menjadi solusi jangka panjang,” ujar seorang pengamat kemaritiman.
Arah Kebijakan Kapal Ramah Lingkungan dan Digitalisasi
Dalam jangka panjang, industri pelayaran didorong menuju penggunaan kapal bertenaga rendah emisi, sesuai standar International Maritime Organization (IMO). Beberapa perusahaan pelayaran nasional mulai menguji penggunaan bahan bakar LNG dan teknologi navigasi berbasis satelit.
Disisi lain, layanan digital seperti tracking kapal real-time, e-manifest, dan pembayaran pelabuhan digital mulai diterapkan untuk mengurangi birokrasi.
Dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan posisi strategis di jalur perdagangan internasional, pelayaran menjadi kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Penguatan konektivitas laut dinilai mampu menurunkan biaya logistik, menggerakkan industri galangan kapal, dan memperkuat ketahanan ekonomi wilayah kepulauan.
Jika seluruh rencana strategis berjalan konsisten, Indonesia berpeluang menjadi pusat pelayaran regional dalam dekade mendatang.